Home » » Benarkah Tawasuf Itu Bid'ah?

Benarkah Tawasuf Itu Bid'ah?

Berbagai macam pertanyaan (yang pada hakikatknya adalah gugatan) terhadap dunia shufi dan tasawuf hingga kini masih terus berlanjut dan sepertinya tidak akan pernah berhenti. Di dalam pertanyaan yang seringkali muncul terhadap tasawuf adalah "Bukankah dalam ajaran Al-Quran, Hadits-hadits dan sirah Rasul SAW sendiri, terdapat sekian banyak macam pendidikan dan aneka ragam ibadah yang dapat menyucikan jiwa, membersihkan hati, memperbaiki akhlak, mengantarkan hamba kepada Tuhan dan memberi rasa kesejukan (uns) bersama Tuhan, lalu mengapa masih membutuhkan ilmu tasawuf, bukankah dengan demikian itu ajaran tasawuf adalah sebuah sisipan (bid'ah) terhadap Islam dan bukan termasuk bagian dari Islam?" Demikian gugatan yang tidak jarang kita dengar dari sebagian kalangan.

tasawuf dan bid'ah
Sumber gambar: genzhas.com
Sebenarnya apabila gugatan tersebut dibenarkan, maka gugatan yang sama haruslah diarahkan terhadap seluruh bidang studi ilmu keIslaman termasuk ilmu Al-Quran, ilmu hadits, ilmu fiqh dan lain-lain. Bukankah pada masa Rasulullah SAW dan masa sahabat belum pernah dikenal istilah nasikh, mansukh, muhkam, mutasyabih, dan lain-lain yang menjadi istilah dalam ilmu tafsir Al-Quran. Belum pernah pula dikenal istilah qiyas, istihsan, mu'aradlah, munaqadlah, thardu, syarath, sabab, 'illat, dan lain-lain yang menjadi istilah dalam ilmu fiqh. Belum pernah juga dikenal istilah jarh, ta'dil, ahad, mutawatir, masyhur, shahih, hasan, dla'if, gharib dan lain-lainnya yang menjadi istilah dalam ilmu hadits. Belum pernah juga dikenal jenjang pendidikan tingkat dasar, tingkat menengah, tingkat atas dan perguruan tinggi, bahkan gelar-gelar kesarjanaan seperti Ic, Magister dan doctor, dan lain-lainnya. Apakah dengan demikian semua itu harus ditolak dan kita anggap sebagai bid'ah dhalalah? Pertanyaan-pertanyaan seperti itu kita jawab dengan tegas, bahwa semuanya bukan termasuk bid'ah dhalalah, termasuk juga ilmu tasawuf.

Dalam menanggapi gugatan bahwa tasawuf itu sisipan atau bid'ah terhadap Islam, kiranya di sini perlu dikemukakan pandangan beberapa pakar tasawuf. Seperti, Abdul Wahid Yahya -Filosof dan shufi kontemporer- yang berpandangan bahwa tasawuf adalah bagian yang esensial dari agama Islam. Menurutnya, agama Islam akan berkurang tanpa hadirnya ilmu tasawuf. Agama Islam akan berkurang dari aspeknya yang luhur, yaitu aspek yang berperan sentral dan fundamental. Karenanya termasuk asumsi murahan, pandangan yang mengatakan bahwa tasawuf bersumber dari ajaran yang asing dari Islam, seperti filsafat Yunani, India, Parsi, dan Masehi. Pandangan ini akan berlawanan dengan istilah-istilah teknis keilmuan dalam dunia tasawuf yang kesemuanya berkaitan erat dengan bahasa Arab.

Imam Abu AL-Muzhaffar bin Thahir al-Asfarayini, ketika memaparkan keistimewaan Ahlussunnah Wal Jama'ah dibandingkan dengan sekte-sekte lain seperti Khawarij, Rafidlah dan Qadariyah, memberikan penjelasan: "Ilmu Tasawuf dan isyarat serta hakikat-hakikat dan hal-hal yang mendetail yang dimiliki oleh Ahlussunnah Wal Jama'ah, tidak dimiliki sedikitpun oleh kalangan ahlulbid'ah. Kalangan Ahlulbid'ah terhalang dari menerima faedah tasawuf seperti ketenangan, halawah. sakinah, dan thuma'ninah.

Abu Abdurrahman al-Sulami telah menyebutkan di antara guru-guru kaum shufi hampir seribu orang. Ia telah menghimpun isyarat-isyarat dan hadits-hadits mereka. Secara umum di kalangan mereka tidak ditemukan seorang yang dinisbahkan terhadap bagian dari kelompok Qadariyah, Rafidlah, dan Khawarij."

0 komentar:

Pecinta Sholawat. Powered by Blogger.