Ajaran Alkitab Nabi Isa Almasih As: Tentang Saling Mengasihi Sesama

Menoreh Tinta - Semenjak kenal dengan orang-orang Kristen, Kami jadi terdorong untuk membaca Alkitab. Malam ini Kami menemukan sabda Isa Almasih As yang berbunyi begini: “Kamu telah mendengar firman: Kasihinilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. Tapi Aku berkata kepadamu: Kasihinilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.” (Matius 5: 43-44).

Ajaran Nabi Isa Almasih As
Kitab Injil Asli

Sabda yang sangat indah. Sebagai seorang Muslim, saya pun mendapatkan ajaran seperti itu dari Nabi Muhammad Saw. Hadits-hadits yang senafas dengan sabda Almasih di atas jumlahnya cukup melimpah. Tak mengherankan. Karena Nabi Isa dan Nabi Muhammad berasal dari Tuhan yang sama. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Baihaqi, misalnya, Rasulullah Saw bersabda:

“Demi Dzat yang jiwKami berada di tangan-Nya, Allah Swt tak mengaruniakan rahmat-Nya kecuali kepada orang yang dipenuhi kasih sayang. Para sahabat bertanya: Wahai Rasulullah, bukankah kita semua ini penyayang? Rasulullah Saw menjawab: “Bukan hanya orang yang menyayangi dirinya saja, tapi orang yang menyayangi seluruh umat manusia.” (HR. Baihaqi)
Baca juga: Benarkah Filsafat Itu Membuat Orang Sesat?

Hadits lain, yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, menyebutkan bahwa suatu ketika Rasulullah Saw diminta oleh salah seorang sahabatnya untuk menyumpah-serapahi orang-orang Musyrik (mungkin karena sudah kelewat batas). Tapi ia tetap menolak seraya berkata: “inni lam ub’ats la’anan wa innama bu’itstu rahmatan.” (Kami tak diutus sebagai pelaknat, melainkan sebagai rahmat). (HR. Muslim)

Ustaz-ustaz ganteng akan segera berkomentar: “Oh engga, itu kan kalau yang dihina dirinya, kalau yang dihina Islamnya ya harus dibunuh. Atau kalau engga dipenjara.” Tak ada kata yang lebih pantas untuk menilai komentar seperti ini kecuali kata bodoh, kalau enggan berkata tolol. Komentar-komentar seperti inilah yang sejujurnya mempermalukan wajah Nabi kita di hadapan orang-orang non-Muslim. Baca juga: Islam Era Modern Jilid 5: Alasan Tidak Boleh Benci Ahok

Kalau Kami menjadi mereka, Kami akan merasa malu semalu-malunya. Lebih baik Kami bodoh dan mempermalukan diriku sendiri, ketimbang harus bodoh tapi mempermalukan baginda Nabi. Apa yang kelak akan Anda katakan di hadapan Nabi jika ternyata yang menghalangi orang lain untuk memercayai Nabi itu adalah diri Anda sendiri?

Benarkah Filsafat Itu Membuat Orang Sesat?

Menoreh Tinta - Sebagai makhluk yang dikarunia akal, harus diakui bahwa berfilsafat merupakan sebuah keniscayaan. Orang boleh membenci filsafat dan pemikiran, tapi—seperti yang ditulis oleh Prof. Mahmud Hamdi Zaqzuq, Guru Besar Filsafat Barat dan Anggota Dewan Ulama Senior Al-Azhar—berfilsafat adalah bagian tak terpisahkan dari fenomena dan tradisi kemanusiaan.

Filsafat
Foto:PsychoShare.com

Bahkan—tulis Zaqzuq lebih jauh—orang yang membenci dan menolak filsafat sendiri diharuskan untuk berfilsafat. Bagaimana dia bisa menolak filsafat kalau dia sendiri tak berfilsafat? Dengan demikian, berfilsafat adalah sebuah keniscayaan tak bisa diabaikan.

Namun, tak semua orang yang berfilsafat itu mampu menjadi Ahli Filsafat. Sebagaimana orang yang berfilsafat itu tak selamanya mampu mengetahui hakikat berfilsafat. Bahkan, bisa jadi seseorang dikatakan sebagai Ahli Filsafat, dan memiliki setumpuk wawasan filsafat, tapi pada hakikatnya dia belum mampu menjiwai hakikat dan tujuan berfilsafat dengan tepat.

Akhirnya bisa jadi ia tersesat. Mengapa selama ini tradisi berfilsafat sering diasosiasikan dengan terma "sesat", seolah-olah Filsafat itu hanya ditakdirkan sebagai ilmu yang sesat sehingga yang mempelajarinya pun bisa terlaknat? (baca juga: Pemimpin Muslim Tak Selamanya Bijak, Pemimpin Bijak Tak Harus Muslim)

Dalam pandangan Prof. Dr. Mahmud Husein—Guru Besar Ilmu Tauhid dan Filsafat Islam Universitas al-Azhar—orang yang hendak berfilsafat dan mendalami filsafat itu bisa diluksikan seperti orang yang hendak mengarungi kedalaman lautan. Tidak semua orang yang hendak merasakan kedalaman hamparan lautan itu "berani" menyemplungkan diri kedalam lautan. Ada orang yang bisanya hanya nangkring di pinggiran. Tapi ada juga orang yang berani mencemplungkan diri kedalam sampai tenggelam.

Orang yang bermental tempe dan hanya berdiri di samping lautan, kemungkinan besar jika air lautan tumpah ia pun akan terdampar dengan mudah. Sudah terdampar, kedalaman lautan yang hendak ia rasakan pun tak kunjung ia rasakan. Tapi orang yang terus menerus mendayung perahu ke tengah dan berani mencemplungkan diri kedalam dasar lautan, pasti ia akan tenggelam dan akan sadar bahwa lautan yang selama ini di matanya tampak itu ternyata tak hanya sekedar luas, tapi juga dalam mengagumkan. (baca juga: Meluruskan Arti Amar Ma'ruf Nahi Munkar)

Nah, orang yang berfisafat pun—kata Mahmud Husein lebih lanjut—perumpamaannya demikian. Orang yang bisanya hanya nangkring di tepi samudera filsafat, pasti tak akan pernah mampu mereguk kedalaman filsafat, juga tak menutup kemungkinan ia terdampar oleh "ombak" sehingga pada akhirnya ia bisa tersesat. Dengan demikian, orang yang berfilsafat dan kemudian sesat itu, disebabkan, antara lain, karena dia baru merasakan kulit filsafat, dan belum mampu merasakan hakikat dan tujuan filsafat dengan tepat.

Tapi orang yang tak berhenti mencari hakikat dan berani mencemplungkan diri kedalam lautan filsafat, pasti ia akan merasakan hakikat dan inti dari filsafat, sekaligus ia akan sadar bahwa ternyata lautan filsafat itu dalam dan luas. Orang semacam ini jelas tak akan pernah tersesat. (baca juga: Cerita Rohani Nabi Muhammad SAW, Beliau “Sedang tidak bersama kita”)

Sebab, jika ia sudah merasakan bahwa lautan filsafat itu dalam dan luas, tentu ia akan lebih sadar akan kemaha-luasan Dzat Yang mendorongnya untuk berfilsafat, dan pada saat yang sama, ia tak akan pernah jumawa dan merasa lebih mampu berfilsafat, baik dari orang-orang yang mampu berfilsafat, maupun dari orang-orang yang tak mampu berfilsafat.

Senada dengan pandangan Mahmud di atas, Prof. Dr. Hassan Syaf'ii—seorang Pakar Ilmu Kalam dan Filsafat dari London University, yang juga Anggota Dewan Ulama Senior Al-Azhar—pernah berkata bahwa: "Kebanyakan orang yang terpedaya dengan filsafat itu ialah orang-orang yang tak mampu mendalami hakikat berfilsafat" (Inna aktsar al-Nâs inkhidâ'an bi al-Falsafah Jâhiluhâ). Demikian kurang lebih Hasan Syafii.

Dari uraian singkat ini, terang bahwa orang-orang yang selama ini tersesat karena filsafat itu justru adalah orang-orang yang tak mampu mendalami hakikat filsafat, sehingga, alih-alih merasakan kedalaman filsafat dan sadar akan kebasaran Dzat Yang MahaKuat yang telah mendorongnya untuk berfilafat, justru ia akan terdampar oleh ombak lautan filsafat, dan pada akhirnya akan tersungkur kedalam lembah filsafat yang sesat. (baca juga: Alasan Mengapa Manusia Sulit Mengalahkan Nafsu)

Sungguh, betapa banyaknya di lingkungan kita orang-orang yang dikenal sebagai Ahli Filsafat, tapi sejujurnya—seperti kata Hasan Syafi'i—ia baru merasakan “kulit” filsafat dan belum mampu mendalami hakikat filsafat. Semoga saja saya, anda, dan kita semua yang mendalami filsafat tidak sesat dan disesatkan oleh filsafat, tapi justru dengan filsafat kita mampu merasakan kebesaran Dzat Yang MahaKuat yang telah mendorong kita untuk berfilsafat.

Sumber: qureta.com/author/muhammadnuruddin

Misteri Dan Makna Lafadz Dzikir 'Hu'

Menoreh Tinta - Di lingkungan beberapa tarekat sufi, sering terdengar lantunan zikir dengan lafaz hu, yang kalau diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia artinya "Dia". Para sufi sendiri jarang yang memandang ini sebagai sebuah persoalan, tapi sebagian 'ulama eksoterik' ('ulama al-Zhahir) ada yang mempersoalkan.

Lafadz Dzikir Hu
Foto: qureta.com/Muhammad Nuruddin

Zikir dengan lafaz tersebut—dan lafaz-lafaz sejenisnya seperti ah dan lah—menurut kelompok yang terakhir ini adalah "zikir yang cacat" (dzikrun fasid) dan tak diperbolehkan. (Baca juga: Mengenal Lebih Jauh Tentang Nur Muhammad)

Mahmud Syaltut, Mantan Grand Syekh al-Azhar, misalnya, dalam salah satu fatwanya menegaskan bahwa zikir dengan lafaz ah itu sama hukumnya dengan zikir menggunakan lafaz-lafaz yang tidak absah. Karena lafaz itu tidak absah, maka hukumnya pun menjadi haram dan tidak sah.

Sebab, berzikir itu—demikian Syaltut—harus menggunakan lafaz yang terekam dalam al-Quran dan tercantum dalam Sunnah. (Lihat Mahmud Syaltut, Al-fatawa: Dirasat li Musykilat al-Muslim al-Mu'ashir fi Hayatihi al-Yaumiyyah al-'Ammah, Kairo: Dar el-Shorouk, hlm. 171).

Namun, kelompok sufi memiliki titik tolak pemahaman yang berbeda dari yang tadi. Syekh Yusri—sebagai seorang sufi—misalnya memandang bahwa zikir dengan lafaz hu itu tak termasuk kategori zikir yang cacat (dzikrun fasid) dan tertolak sama sekali.

Lafadz Dzikir Hu itu, kata Syekh Yusri, sejujurnya hanya dilakukan oleh orang-orang yang sudah sampai pada maqam spiritual tentu. Dan, yang penting dicatat, tidak semua sufi melakukan hal itu.

Dalam tradisi Madarasah Syadzuliyyah-Yusriyyah sendiri—tegasnya lebih lanjut—zikir semacam itu tak dianjurkan. (Baca juga: Islam Era Modern Dan Bagaimana Pola Pikir Mereka)

Beliau mengatakan: "…Saya sendiri tak pernah melakukan dan menganjurkan berzikir dengan lafaz seperti itu. Tapi kalau ada yang melakukan hal demikian ya tidak bisa kita ingkari dan tidak jadi persoalan besar. Karena saya tahu, ada wal-wali besar yang berzikir dengan lafaz seperti itu. Dan kita tidak boleh bersikap kurang ngajar kepada wali." Demikian kurang lebih Syekh Yusri dalam suatu pengajian.

Sekali lagi, penting diingat bahwa para sufi yang melantunkan zikir dengan lafaz hu—dan lafaz-lafaz sejenisnya—adalah mereka-mereka yang sudah sampai pada maqam spiritual tertentu, dan tidak semua sufi melakukan hal itu.

Pertanyaannya kemudian: jika dari sudut fikih zikir dengan lafaz seperti ini bermasalah, maka bagaimana kita memahami persoalan ini dari kaca mata para sufi? Fokus utama tulisan ini akan menjawab pertanyaan tersebut. (Baca juga: Ingin pintu rezeki terbuka lebar? Amalkan 7 Dzikir ringan ini)

Pertama, zikir itu dari sudut kebahasaan artinya "mengingat". Nah, ketika anda mengingat sesuatu, misalnya, maka mau tidak mau anda harus mengakui adanya yang mengingat (al-Dzâkir) dan ada yang diingat (al-Madzkûr).

Sampai pada titik ini, saya kira, kita sepakat. Bahwa seseorang bisa dikatakan "mengingat" ketika ia sadar bahwa dirinya itu mengingat dan dia menyadari akan adanya yang diingat.

Persoalan yang muncul kemudian ialah: Bagaimana kalau yang mengingat itu sudah tenggelam bersama yang diingat sehingga yang mengingat seolah-seolah tak merasa sebagai yang mengingat dan pada akhirnya yang diingat hanyalah yang diingat?

Di sinilah titik keindahan ajaran para sufi. Mereka meyakini bahwa tak ada yang diingat dari yang diingat kecuali Yang Diingat. Dan tak ada yang mengingat dari yang mengingat kecuali yang tak membutuhkan untuk diingat. Dalam bahasa Syekh Yusri, kondisi seperti ini dikenal dengan istilah "al-Ghaibûbah fi al-Madzkûr" (melebur bersama yang diingat).

Saya kira, kondisi seperti ini bukan hanya akan kita temukan di lingkungan para sufi, tapi juga bisa temukan dalam konteks kehidupan sehari-hari. Orang yang gila cinta kepada manusia pun pasti ada yang mengalami kondisi semacam ini. (Baca juga: Ingin cepat mendapat jodoh? Lakukan amalan-amalan dzikir ini)

Kadang orang-orang seperti ini juga suka melakukan hal-hal yang, menurut ukuran manusia normal, itu "gila" sekali. Bahkan, tak jarang di antara mereka ada yang sampai bunuh diri, manakala orang yang dicintainya itu pergi dan tak kembali.

Nah, kalau orang yang gila cinta kepada manusia yang notabene nya tak memiliki cinta saja ada yang bisa mengalami kondisi seperti tadi, apalagi seorang sufi yang memusatkan cintanya kepada Yang MahaSuci dan tak melihat adanya yang suci yang harus diingat kecuali Yang MahaSuci itu sendiri. Orang seperti ini pasti akan lebih gila lagi.

Kedua, seperti yang dituturkan oleh Syekh Yusri, yang saya kutip pada uraian tadi, bahwa orang-orang yang berzikir dengan "lafaz-lafaz aneh" itu sejujurnya tengah mengalami kondisi spiritual tertentu yang terkadang, bagi orang yang tak mengalami hal serupa, akan sulit untuk memahami. (Baca juga: MENAKJUBKAN!!! Inilah 6 Masjid Yang Terbuat Dari Lumpur)

Nah, dalam konteks ini, menarik untuk dikemukan satu kaidah penting yang akan menyelesaikan persoalan kita kali ini.

Dalam tradisi Ilmu Tasawuf, ada sebuah kaidah utama yang menyatakan bahwa: "al-Hâl yaghlibu 'ala al-Ilm" (kondisi itu mendominasi/mengatasi ilmu).

Betitik-tumpu pada kaidah ini, bisa kita katakan bahwa, kondisi spiritual yang sedang menimpa seseorang itu ditoleransi, meskipun dari sudut keilmuan—maksudnya keilmuan eksoterik—itu tak selamanya diamini. Penjelasan terkait kaidah ini, saya kira, memerlukan tulisan secara terpisah di lain nanti. Jika Tuhan Menghendaki.

Saya menduga mungkin akan ada yang berasumsi bahwa itu ini hanyalah "kaidah basi" buatannya para sufi. Dengan tegas saya katakan: tidak sama sekali! Kaidah ini bersandar pada ajaran kitab suci dan sunnah Nabi. Tulisan ini terlalu sempit untuk menguraikan makna dari kaidah yang saya sebutkan tadi.

Tapi intinya itu tadi. Kalau ada orang yang sedang ditimpa kondisi spiritual tertentu, padahal ilmu (eksoterik) tak mengamini kondisinya itu, maka ketika itu, orang tersebut ditoleransi. Dan karena ia ditoleransi, maka ia tak berdosa sama sekali.

Ketiga, harus diakui bahwa tak ada kelompok Islam yang mampu mereguk kelezatan tauhid kecuali para sufi—demikian kata Syekh Yusri. Para sufi itu adalah pereguk kelezatan tauhid sejati. Saya ingin membuktikan hal tersebut, setidaknya, melalui persoalan yang sedang kita diskusikan di sini. Kembali kita kepada persoalan tadi, mengapa orang berzikir dengan lafaz hu?

Oke. Begini. Sekarang kita ambil satu rangkaian kalimat zikir yang paling populer dan yang paling sering kita ucapkan setiap hari. Ambil contoh, misalnya, kalimat lâilâha illallâh.

Perhatikan artinya baik-baik: "Tiada tuhan selain Allah". Coba perhatikan dan resapi kata "tiada" yang berada di awal kalimat ini. Kata "tiada" itu artinya bermakna negasi (al-Nafy). Dan yang manarik—dalam rangkaian kalimat tadi—kalimat tersebut dikaitkan dengan lafaz Ilahi.

Nah, pada titik ini, kalau kita mampu menyelami keindahan ajaran para sufi, manakala kita menemukan di antara mereka ada yang meniadakan huruf negasi dalam rangkaian kalimat suci tadi, sejujurnya kita tak akan menemukan persoalan sama sekali.

Ketika seorang sufi yang sudah sampai pada maqam spiritual tertentu itu mengatakan "Tidak ada tuhan…"—meskipun pada selanjutnya disusul oleh kata "selain Allah"—mereka itu sejujurnya tidak kuat!

Bagaimana mungkin mereka menautkan kata "tiada", yang bermakna peniadaan itu, kepada nama Tuhan yang tak pernah mereka anggap tiada dan selalu ada? Mereka jelas tak akan tega, dan hati mereka akan sulit menerima!

Akhirnya, huruf negasi yang menghiasai rangkaian kalimat tadi itu kemudian dihilangkan. Tinggallah tersisa lafaz illallah, yang artinya "selain Allah".

Sekali lagi, perhatikan dan rasakan terjemahkan lafaz tersebut dengan baik menurut spirit tauhid ala sufi. Kata "selain" itu, meskipun dalam gramatika Bahasa Arab disebut dengan istilah huruf istitsnaiy, yakni huruf yang berfungsi sebagai pengecualian, bukan huruf negasi, tapi tetap saja masih mengandung "aroma" negasi.

Kalau dalam rangkaian lafaz pertama mereka membuang huruf negasi, maka mereka pun melakukan hal yang sama pada lafaz selanjutnya ini. Alasannya satu: mereka tidak kuat dan yang hanya ingin mengingat Yang MahSuci! Bukan huruf-huruf negasi seperti tadi. Dan memang kondisi spiritual mereka yang meniscayakan hal ini.

Sekarang kita sudah hapus dua huruf negasi yang saya sebutkan tadi. Tinggalah tersisa kemudian lafaz "Allah", Dzat Yang MahaSuci.

Nah, sampai pada titik ini, mungkin ada dari anda yang bertanya: Kenapa mereka tidak berzikir dengan lafaz Allah saja? Bukankah sekarang sudah tidak ada huruf negasi lagi? Menjawab pertanyaan ini, di satu sisi, kita harus mengamini.

Betul bahwa berzikir dengan lafaz Allah itu lebih baik dan lebih bisa diterima dari sudut pandang kitab suci dan sunnah Nabi. Tapi, kita akan tetap bertanya, kenapa para sufi tetap melakukan hal ini? Mari kita lanjutkan kembali.

Ingat, spirit utama yang menjiwai ajaran para sufi adalah tauhid yang murni. Tauhid itu bertingkat-tingkat, ada tauhidnya orang awam, ada tauhidnya orang khusus (al-Khawash), dan ada juga tauhidnya orang terkhusus dari yang khusus (khawash al-Khawash).

Nah, level tauhid tertinggi itu hanya dimiliki oleh orang-orang yang terakhir ini. Yakni tauhid yang benar-benar menegasikan seluruh—sekali lagi seluruh—yang ada selain Yang Ada hatta dirinya sendiri walaupun dirinya itu ada.

Dia tak melihat adanya yang ada dari yang ada kecuali Yang Ada. Keberadaan yang ada selain Yang Ada, meskipun ada, mereka yakini sebagai tiada, karena yang sebenar-benarnya ada dan keberadaannya bukan dari tiada itu hanyalah Yang Ada.

Nah, dari kacamata orang yang sudah sampai pada level tauhid seperti ini, huruf-huruf yang terangkai pada lafaz Allah itu pun dikategorikan sebagai yang ada selain Yang Ada. Sementara mereka tak ingin melihat adanya yang ada dari yang ada kecuali Yang Ada.

Karena huruf-huruf itu dipandang sebagai yang ada selain Yang Ada, maka demi mengingat keberadaan Yang Ada, huruf-huruf itupun mereka tiadakan dan dianggap tiada. Spirit tauhid seperti ini indahnya luar biasa.

Lihat, alif yang terangkai dalam lafaz Allah kemudian dihilangkan. Nah, jika alifnya dihilangkan, maka yang tersisa adalah lafaz lahu (bagi Dia). Tapi—lihat, rasakan, dan perhatikan dengan baik-baik—kata "bagi" itupun—karena ia merupakan huruf dan huruf itu bagian dari sesuatu yang selain Allah—turut dihilangkan sehingga yang tersisa hanyalah lafaz hu.

Nah, sampai pada titik ini, kita akan sadar bahwa inilah rahasia mengapa ada sebagian dari kelompok sufi yang berzikir dengan menggunakan lafaz hu.

Mereka meyakini sepenuhnya bahwa tak ada yang ada dari yang ada kecuali Dia. Selain Dia, semua yang ada yang terhampar di alam yang berada ini—hatta dirinya sekalipun—itu tiada, karena yang ada itu bisa ada dari tiada, diadakan oleh Yang Ada, dan kelak hanya akan kembali kepada Yang Ada yang selalu ada dan tak akan pernah tiada.

Kalaupun anda masih bersikeras memandang bahwa berzikir dengan lafaz seperti itu adalah haram, maka setidaknya, mulai sekarang anda sudah paham.

Inilah spirit tauhid yang tercermin terang dalam ajaran para sufi. Mungkin, di luar sana ada juga sufi yang tak kuat dengan lafaz hu, sehingga mereka tak berzikir dengan menggunakan lafaz hu, tetapi berzikir dengan mengerahkan seluruh jiwa, raga dan pikirannya sampai mereka tak mengingat adanya yang satu kecuali Yang Satu. Wallahu 'alam.

Sumber: qureta.com/Muhammad Nuruddin

Islam Era Modern Jilid 5: Alasan Tidak Boleh Benci Ahok

Menoreh Tinta - Ada satu hadits Nabi yang selama ini mendorong Kami untuk membela Ahok --yang tidak menistakan al-Quran itu-- dan membela orang-orang non-Muslim yang merasa terganggu. Anda renungkan hadits ini baik-baik. Hadits ini menunjukan bahwa ajaran Nabi Muhammad Saw lebih indah dari yang kita sangkakan.

Islam modern
Islam modern - gambar:tribunnews.com

Nabi Muhammad Saw bersabda: "Barang siapa menyakiti seorang dzimmi (warga negara non-Muslim), maka dia telah menyakitiku." (man adza dzimmiyyan faqad adzani". Riwayat lain menyebutkan: "Barang siapa menyakiti seorang dzimmi, maka aku adalah musuhnya." (man adza dzimmiyyan fa ana khasmuh).
Baca juga: Propaganda Yang Merusak Agama

Artinya, kalau Kami--sebagai seorang Muslim dan pengikut Nabi Muhammad--berani menyakiti seorang Ahok, maka boleh jadi Kami kena ancaman dua hadits tersebut. Lihat. Betapa kerasnya ancaman Islam bagi yang menyakiti seorang non-Muslim.

Bayangkan. Betapa tingginya rasa kemanusiaan Nabi Muhammad Saw yang selama ini kita agung-agungkan. Kalau ada satu orang di antara umat yang dicintainya itu berani menyakiti orang non-Muslim yang beda Agama, maka dia menyatakan permusuhan kepada orang tersebut sekalipun orang tersebut adalah orang yang dicintainya. (Baca juga: Kemarahan Pada Ahok)

Sampai detik ini Kami--yang bukan siapa-siapa Ahok dan tak pernah disuruh apalagi dibayar Ahok--tak rela menyebut Ahok sebagai "penista al-Quran" apalagi musuh Islam. Setiap kali menulis kata mengina, menista, atau penista Kami selalu membubuhkan tanda petik dalam tulisan Kami. Kalau menyebut "penista" saja Kami tak tega, apalagi mempersamakan Ahok dengan Firaun dan Raja Namrud, seperti yang dilakukan oleh salah seorang ustaz terkenal. Itu sama sekali tidak adil.

Kami hanya takut menyakiti hati Ahok jika Kami menyebut dia sebagai penista dan musuh Islam. Dan kalau Kami menyakiti Ahok, Kami hanya takut menjadi musuh Nabi Muhammad Saw kelak di hari kiamat. Dia sudah menyatakan bahwa dia tidak anti-Islam juga tidak bermaksud menistakan al-Quran. Tapi umat Islam dengan mudahnya menyebut dia sebagai "penista" dan musuh Islam yang harus dipenjarakan. (Baca juga: Meluruskan Arti Amar Ma'ruf Nahi Munkar)

Kami selalu bilang kalau orang menista dengan penista itu beda. Kalau Anda melacur satu kali, dan Anda melacur karena terpaksa, misalnya, apa rela Anda disebut sebagai pelacur? Kalau anda hanya mabuk satu-dua kali, apa mau Anda disebut sebagai pemabuk? Kalau Anda merokok satu-dua kali, apa pantas Anda disebut sebagai perokok?

Ahok sudah membangun masjid-masjid untuk saudara-saudara Muslim Kami di Jakarta. Dia sudah mengabdikan diri kepada warga DKI Jakarta sesuai dengan kamampuannya. Bahwa dia melakukan kesalahan, tolaklah kesalahannya, tapi jangan benci orangnya. Karena itulah yang diajarkan oleh Islam. Apakah Anda masih tega menyebut orang yang sudah membangun tempat ibadah dan menyantuni saudara-saudara Anda sebagai penista al-Quran dan musuh Islam? (Baca juga: Pola pikir Muslim Akhir Zaman)

Sampai kapanpun Kami tak akan pernah tega menyebut Ahok sebagai penista dan musuh Islam, kecuali jika dia memang terang-terangan memusuhi umat Islam seperti Abu Jahal dan Abu Lahab yang menabuh genderang perang. Kami tidak ingin menjadi musuh Nabi Muhammad Saw hanya karena menyakiti seorang Ahok. Dan Kami ingin mengingatkan saudara-saudara Kami untuk lebih hati-hati dalam menilai Ahok. Kami cinta kepada Nabi Muhammad Saw, sebagaimana Kami cinta kepada Isa Almasih Alihissalam.

Sumber: https://www.facebook.com/ibnu.shihab.3/posts/1184129641682030

Pemimpin Muslim Tak Selamanya Bijak, Pemimpin Bijak Tak Harus Muslim

Menoreh Tinta - Wahai kaum Muslim yang saleh dan beriman, ketahuilah bahwa pemimpin Muslim tak selamanya mampu menciptakan kepemimpinan yang Islami sekalipun dia Muslim. Sebagaimana pemimpin non-Muslim juga tak selamanya menciptakan kepemimpinan yang tidak Islami sekalipun dia non-Muslim. Islami atau tidaknya suatu kepemimpinan itu tak tertaut erat dengan Agama yang memimpin.
 
Pemimpin bijak


Orang non-Muslim bisa saja menciptakan kota yang Islami jika dia jujur. Sebagaimana orang Muslim juga mungkin saja menciptakan kota yang tidak Islami jika dia tidak jujur. Tidak semua orang Islam itu baik, sebagaimana tidak seluruh orang non-Muslim itu buruk. (Baca: Kemarahan Pada Ahok)

Alhasil, dalam memilih pemimpin, Agama itu hanya salah satu pertimbangan saja untuk memilih, tapi bukan satu-satunya. Meskipun bagi sebagian orang Agama adalah unsur terpenting, tapi tetap saja itu hanya salah satu, bukan satu-satunya. Artinya, kalau Anda sebagai Muslim meyakini bahwa ada Muslim yang lebih baik dan bisa lebih dipercaya ketimbang non-Muslim untuk memimpin, maka pilihlah yang Muslim.

Tapi kalau Anda melihat bahwa yang non-Muslim ternyata lebih mampu dan lebih bisa dipercaya ketimbang yang Muslim, bukanlah suatu keharaman jika Anda memilih yang non-Muslim. Dan inilah yang kami terima dari guru kami di al-Azhar. (Baca: Meluruskan Arti Amar Ma'ruf Nahi Munkar)

Apa dalilnya? Sebelum Anda mengutip ayat al-Quran, timbanglah pernyataan ini dengan kewarasan Anda yang masih sehat dan belum terkontaminasi dengan ajaran kampungan. Percayalah bahwa Islam yang kita peluk tidak pernah bertentangan dengan kewarasan yang masih perawan juga tak akan mungkin bertentangan dengan nilai-nilai keadilan.

Sejauh menyangkut urusan sosial-keduniawian, Islam yang kami peluk bukanlah Islam diskriminatif yang terlampau lebay dalam mempertimbangkan keyakinan. Islam yang kami peluk akan selalu memandang bahwa yang paling terpenting untuk dijadikan pertimbangan dalam memilih pemimpin itu adalah kemampuan dan kejujuran, bukan hanya keyakinan. Karena yang kelak akan diurus oleh seorang pemimpin bukanlah keyakinan, melainkan urusan keduniawian. (Baca: Ingin pintu rezeki terbuka lebar?)

Inilah sejujurnya salah satu keindahan ajaran Islam yang kadang ditutup-tutupi oleh orang-orang yang berpikiran sempit dan politikus-politikus ganteng yang memiliki kepentingan. Tapi kalau memang Anda keukeuh dengan pandangan lain, ya silakan. Tidak jadi persoalan. Asal dengan satu catatan: Jangan suka memaksakan! Kalau memang Anda masih memiliki kewarasan!

Islam Era Modern Jilid 4: Propaganda Yang Merusak Agama

Menoreh Tinta - Para "ulama" ganteng dan beriman yang suka masuk tipi dan pengikutnya melimpah itu mestinya sadar bahwa ketika mereka memproduksi fatwa ataupun ceramah-ceramah Agama, yang akan menyimak fatwa dan pandangan-pandangan keagamaan mereka bukan hanya orang yang seagama dengan mereka, tapi juga ada orang-orang yang berbeda Agama.

Islam era modern
sumber gambar:aceh.tribunnews.com

Ada orang Kristen, Hindu, Budha, bahkan orang-orang Atheis yang terkadang otak mereka lebih canggih ketimbang kaum beragama. Mereka akan menilai ceramah dan fatwa Anda bukan dengan butiran ayat al-Quran, tapi dengan kewarasan dan akal sehat yang masih perawan. Manakala Anda buat fatwa yang tidak objektif atau ceramah yang konyol, mereka tentu akan berkata:

"Idih ini Agama norak banget. Cuma milih gubernur doank juga main larang-larang. Kan jadi gubernur mah engga ada urusannya dengan keyakinan. Idih ini Agama norak banget, ada orang yang tidak bermaksud menistakan, sudah minta maaf, tapi tetep saja disebut penista al-Quran. Sudah begitu didemo besar-besaran. Norak banget nih ulama berhadapan dengan orang kaya gitu aja harus main bunuh-bunuhan. Ga mau lah gua masuk Agama yang konyol. Mending gua ga beragama sekalian."
(Baca juga: Pantaskah memenjarakan Ahok?)
Paham ya ustaz ganteng ya? Yang menghalang-menghalangi Anda dari orang lain untuk mengenal Islam sungguhan itu sejujurnya diri Anda sendiri. Munculnya gerakan-gerakan teror itu benihnya dari ceramah dan fatwa-fatwa Anda sendiri. Adanya orang-orang yang murtad itu karena geli melihat kelakuan dan pandangan keagamaan Anda sendiri.

Sesekali Anda menyalahkan diri sendiri ketimbang terus-menerus menyalahkan orang "kafir" yang Anda yakini sebagai kandidat Ahli neraka di hari nanti. Makanya sebelum ngajak orang lain masuk Islam, Anda bersihkan dulu Agama Anda dari ajaran-ajaran kampungan yang norak dan jauh dari kewarasan. Katakan pada mereka bahwa itu bukan bagian dari Islam. Itu adalah ajaran gerandong dan mak lampir yang kini dibangkitkan kembali seiring dengan derasnya kebodohan.

Mana ada orang waras di dunia ini yang rela memeluk Agama yang penuh dendam dan kebencian. Di mana-mana orang itu suka dengan Agama yang pemaaf, santun, ramah, santai, tenang, indah, damai, masuk akal, dan yang terpenting, tidak membesar-besarkan persoalan yang tidak perlu dibesar-besarkan.
(Baca juga: Pola pikir Orang Islam Era Modern)

Penulis juga sebagai Muslim ogah banget memeluk Islam yang wajahnya demikian. Cuma untungnya Penulis tahu bahwa Islam yang sesungguhnya itu sangat indah, sesuai dengan kewarasan, dan senafas dengan denyut nadi perkembangan zaman. Hanya saja yang tampil di muka adalah Islam yang garang, kampungan dan sarat dengan kebencian.

Percayalah bahwa dengan menjadi Muslim sungguhan Anda akan menjadi orang yang lebih waras dan lebih santun kepada orang-orang yang berbeda keyakinan. Percayalah bahwa dengan menjadi Muslim sungguhan Anda akan merasakan kedamaian dan kedekatan dengan Tuhan yang selama ini kita agungkan.

Percayalah bahwa dengan menjadi Muslim sungguhan Anda tak akan menjadi orang culun yang buta dengan perkembangan zaman. Dan percayalah bahwa Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw adalah Agama yang menjunjung tinggi keadilan. Tapi kini keadilan itu dirampas oleh orang-orang yang berkepentingan. Kini keadilan itu diperkosa oleh orang-orang yang haus akan kekuasaan.

Dan keadilan itu kini sudah tewas dengan kezaliman yang dibungkus dengan nama Islam dan keagungan al-Quran. Dan sudah banyak orang-orang culun yang menjadi korban. Berhentilah Anda menyebar keculunan di negeri ini jika Anda masih berharap Agama Anda dilirik oleh orang-orang yang berbeda keyakinan.

Tampilkanlah Islam yang waras, ramah dan berkeadilan. Dan jangan sekali kali menampilkan ajaran Islam yang kampungan, norak, tengil, dan penuh kebencian kepada orang-orang yang berbeda keyakinan. Karena siapapun mereka dan apapun keyakinannya, mereka adalah hamba Tuhan yang harus kita muliakan.

Islam Era Modern Jilid 3 : Kemarahan Pada Ahok

Menoreh Tinta - Jangan pernah dengarkan ujaran konyol yang selalu bilang "Nabi Muhammad Saw itu tidak marah kalau yang dihina adalah dirinya. Tapi dia akan marah besar jika yang dihina adalah al-Quran dan Agamanya." Betul bahwa Nabi Muhammad itu bisa marah. Hanya saja amarahnya tak selalu diluapkan dengan ujaran kebencian yang bisa membuat orang lain marah.

nafsu amarah
Nafsu amarah - gambar: binainsan.com

Apa harus ketika Anda marah kemarahan Anda membuat Anda menjadi tidak ramah kepada orang yang marah? Bukankah amarah yang diekspresikan dengan marah hanya akan membuat orang yang tadinya marah menjadi lebih marah? Bukankah amarah yang diekspresikan dengan ucapan ramah akan membuat orang yang tadinya marah menjadi ramah? Bukankah cara semacam ini paling masuk akal untuk ditempuh oleh Nabi Muhammad Saw karena dia adalah Nabi yang penuh rahmah dan bukan Nabi yang penuh dengan amarah? (Baca juga : Alasan Mengapa Manusia Sulit Mengalahkan Nafsu)

Dalam marah pun Nabi Muhammad Saw adalah sosok yang ramah. Cukuplah Anda melek dengan sejarah untuk membuktikan bahwa Nabi Muhammad Saw adalah sosok yang ramah dan tidak mudah marah kepada orang-orang yang bersalah sekalipun keyakinan mereka salah. Sekiranya setiap kali ada orang yang menghina al-Quran dan Islam itu Nabi Muhammad langsung amuk-amukan, demo berjilid-jilid, dan main ancam bunuh kepada orang yang bersangkutan, niscaya tidak akan ada orang kafir yang sudi masuk Islam.

Siapa yang sudi dengan Agama demikian? Siapa yang akan sudi dengan Agama yang mengedepankan permusuhan? Siapa yang sudi dengan Agama yang memendam kebencian? Siapa yang sudi dengan Agama yang mengajarkan marah-marahan? Orang waras hanya akan sudi dengan Agama yang mengajarkan cinta dan kasih Kaming, bukan kebencian, marah-marahan, apalagi bunuh-bunuhan. Dan itulah ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw. (Baca juga: Mengenal Lebih Jauh Tentang Nur Muhammad -Pusat Kesatuan Alam-)

Ada yang bertanya: Lantas kalau begitu kenapa Nabi Muhammad Saw melakukan peperangan? Jawabannya: Perang yang dilakukan oleh Nabi Muhammad Saw dan para sahabatnya tak lain sebagai bentuk pembelaan dan perlawanan. Dan ingatlah wahai kaum bersumbu pendek, Nabi Muhammad Saw--yang diutus sebagai rahmat kepada seluruh alam itu--memerangi kelompok di luar Agamanya bukan semata-mata karena mereka kafir, menghina Islam ataupun menghina al-Quran, tapi Nabi Muhammad Saw dan para sahabatnya memerangi kelompok di luar Agamanya karena merekalah yang terlebih dahulu mengumandangkan peperangan.

Artinya apa? Kalau mereka berdamai, Nabi Muhammad juga akan berdakwah secara damai, meskipun mereka menghina Islam dan al-Quran. Tapi kalau mereka mengajak perang--padahal Nabi Muhammad hanya mengajak--ya tentu orang waras juga akan berkata bahwa sangat wajar jika Nabi Muhammad dan kelompoknya melakukan pembelaan. Contohnya Anda diajak seseorang pergi ke Kairo, kemudian Anda menolak dan penolakan itu anda lakukan sambil mengambil golok untuk menebas leher orang tersebut. Apa salah kalau orang itu melakukan pembelaan? Sangat masuk akal bukan?

Lihatlah batapa warasnya ajaran Islam. Dan lihatlah betapa indahnya akhlak Nabi Muhammad Saw. Setiap kali disakiti oleh kaumnya--yang menghina Islam dan melecehkan ajaran al-Quran itu--dia selalu berdoa: Allahummaghfir liqaumi fa innahum la ya'lamun (Tuhan, ampunilah kaumku karena sesungguhnya mereka tidak tahu)". Mengapa Nabi Muhammad Saw mengucapkan demikian? Karena Nabi Muhammad Saw bukan Nabi yang penuh kebencian, melainkan Nabi yang diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam.

Tapi lihatlah kelakuan (sebagian) umatnya yang imut dan taat beragama itu: Ada orang salah dikit dan sudah minta maaf tapi masih saja didemo berjilid-jilid. "Penjaran Ahok". "Penjarakan Penista al-Quran". "Larang Pemimpin kafir". "Bela Islam". "Bela al-Quran". Alah macam-macamlah itu. Kami sendiri geli mendengarnya. (Baca juga : Khasiat membaca Al-Quran)

Kami tidak mengenal dan tidak akan sudi mengamini ajaran yang penuh kebencian semacam itu. Kalau Anda sudi melakukan hal tersebut, lakukanlah, tapi jangan mengatas-namakan Islam. Ingat ya, seperti yang sudah Kami tulis, yang demo itu minoritas, bukan mayoritas. Jadi tidak perlu mengatas-namakan Islam.

Hilangkanlah keculunan yang membuat Nabi Anda yang penuh cinta dan kasih Kaming itu buruk di mata orang-orang yang berbeda keyakinan. Nabi yang Anda imani bukan hanya rahmat bagi orang-orang Islam, tapi juga rahmat bagi seluruh alam, termasuk kelompok yang Anda sesat-kafirkan. Dia tidak pernah mengumandangkan permusuhan kecuali kepada orang atau kelompok yang memang menyatakan permusuhan. Dan itu sangat masuk akal.

Percayalah bahwa Nabi Muhammad Saw adalah Nabi yang santun, penuh cinta dan memimpikan perdamaian. Karena apa yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw tidak jauh berbeda dengan apa yang diajarkan oleh Isa al-Masih Alaihissalam. Nabi Muhammad dan Isa Almasih adalah dua utusan Tuhan yang diturunkan untuk menebar kedamaian, bukan kebencian apalagi bunuh-bunuhan. Tidakkah Anda berpikir wahai para pembela al-Quran?

Sumber: https://www.facebook.com/ibnu.shihab.3/posts/1189429481152046

Islam Era Modern Jilid 2 : Meluruskan Arti Amar Ma'ruf Nahi Munkar

Menoreh Tinta - Dalam Islam dikenal konsep amar ma’ruf-nahi munkar (memerintahkan yang baik dan menolak yang munkar). Ini adalah tuntunan Al-Quran yang harus kita amini. Hanya saja, yang penting untuk dijadikan catatan, memerintahkan yang ma'ruf harus dengan cara yang ma’ruf. Sebagaimana menolak yang munkar juga tidak boleh menggunakan cara yang munkar.
 
amar ma’ruf-nahi munkar
Amar ma’ruf-nahi munkar - gambar: visimuslim.net

Mengapa demikian? Karena memerintahkan yang ma'ruf dengan cara yang munkar tentu akan menimbulkan kemunkaran. Sebagaimana menolak yang munkar dengan cara yang tidak ma’ruf hanya akan menimbulkan kemunkaran baru yang terkadang lebih munkar. Betul bahwa keduanya harus berjalan secara beriringan. Hanya saja keduanya harus berada dalam koridor yang ma’ruf, bukan yang munkar. (Baca juga: Khasiat Ayat-ayat Al-Quran, Hizib dan Do'a)

Kalau kaidah semacam ini diindahkan, Kita yakin umat Islam tak akan menimbulkan kerusuhan. Masalahnya kadang sekarang itu kebalik. Makanya rusuh di mana-mana. Yang ma’ruf disampaikan dengan cara yang munkar, dan yang munkar kadang ditolak dengan cara yang tidak ma’ruf.

Yang ma’ruf kadang dibungkus dengan kemunkaran, dan kemunkaran kadang dibalut dengan kearifan. "Si ma'ruf" (penyeru kearifan) kadang tidak sadar kalau dia sedang menyampaikan kemunkaran, dan "si munkar" (penolak kemunkaran) juga kadang tidak sadar bahwa yang sedang dia lakukan bukanlah sebuah kearifan.

Lalu tugas kita apa? Tugas kita bukan hanya amar ma’ruf nahi munkar --dalam pemaknaan orang kebanyakan--. Tugas kita yang tak kalah penting dari itu ialah: meluruskan “si ma’ruf” agar menyampaikan yang ma’ruf dengan cara yang ma’ruf. Dan mengingatkan “si munkar” agar menolak kemunkaran dengan cara yang tidak munkar. Karena ini juga bagian dari amar ma'ruf nahi munkar.

Ketika memerintahkan yang ma'ruf Islam tak menghendaki kecuali terciptanya sebuah kearifan. Dan ketika menolak yang munkar Islam tak mengendaki kecuali terciptanya sebuah kedamaian. Kalau semua ini dipahami dan diaktualisasikan dengan baik, percayalah bahwa apa yang diinginkan “si ma’ruf” akan berbuah kearifan. Sebagaimana yang dikehendaki oleh “si munkar” juga pasti tak akan menimbulkan kemunkaran. (Baca juga : Metode belajar "meniru" dalam tinjauan agama Islam)

Andai umat Islam bersatu padu dalam mengamalkan tuntunan Al-Quran yang satu ini dengan lurus, niscaya negeri kita akan damai dan jauh dari kerusuhan seperti yang selama ini kita rasakan. Karena Islam pada dasarnya adalah Agama yang damai, bukan Agama yang suka mengganggu perdamaian. Islam adalah Agama yang tenang, bukan Agama yang suka mengganggu ketenangan.

Sumber: https://www.facebook.com/ibnu.shihab.3/posts/1188126887948972

Islam Era Modern Dan Bagaimana Pola Pikir Mereka Jilid 1

Menoreh Tinta - Teman-teman Kristen --yang kami cintai-- terus terang bahwa sekarang ini, sudah banyak orang Islam yang "lebih Kristen" ketimbang orang-orang Kristen. Kalau berbicara soal teks, tuturnya, dalam tradisi kekristenan sendiri ada teks-teks yang potensial menyulut kekerasan. Hanya saja, teks-teks tersebut tak dibaca sesuai konteksnya. Akhirnya menimbulkan kebencian. Dalam Islam juga demikian. Teks-teks yang secara lahiriah tampak "garang" itu harus dibaca secara holistis dan kontekstual, bukan dengan pembacaan parsial, dangkal dan irasional.

Islam era modern
Islam era modern - gambar:sindonews.com

Jangan hanya karena kutipan satu-dua ayat lantas Anda seenaknya menghukumi seseorang dengan sebutan kafir, sesat, dan abadi di neraka selama-lamanya. Jangan hanya karena bermodal Almaidah 51 lantas Anda seenaknya menyapu-ratakan seluruh Yahudi dan Nasrani itu musuh Islam, kafir, dan tak boleh dijadikan pemimpin di Indonesia. Kalau Anda tidak mau Agama anda disebut Agama yang "norak", tinggalkanlah cara berpikir sempit semacam itu.

Baca juga: Cerita Rohani Nabi Muhammad SAW, Beliau “Sedang tidak bersama kita”

Semua yang belajar Ilmu Tafsir pasti tahu bahwa setiap ayat dalam Al-Quran itu memiliki kaitan erat dengan ayat sebelum dan sesudahnya. Ada yang disebut siyaq, sibaq dan lihaq. Itu sebabnya dalam tradisi Ilmu Tafsir dikenal istilah Ilmu Munasabat al-Ayat (Ilmu tentang korelasi ayat). Karena Al-Quran itu --seperti yang diilustrasikan para Mufassir-- adalah satu kesatuan rantai yang tak terpisahkan.

Artinya, kalau Anda suka memenggal satu ayat --Almaidah 51 misalnya-- dengan mengabaikan keterkaitan ayat tersebut dengan ayat-ayat yang lain, baik sebelum maupun sesudahnya, Anda sudah menempuh metode konyol yang tak diamini oleh para Mufassir itu sendiri. Apa bedanya Anda dengan kaum Jihadis yang suka teriak-teriak bunuh dengan bermodal satu dua ayat quran itu? Semua pelajar Muslim kami kira tahu ini. Tapi giliran urusan politik kaidah suci ini diumpet-umpetin ke tong sampah.

Lepas dari perdebatan soal itu, dari teman Kristen tadi kami belajar bahwa di tengah "kemelut" Pilkada DKI yang semakin panas dan aduhai ini, masih ada orang-orang waras yang menilai Agama secara objektif dan terukur. Orang-orang yang tak suka mencampur adukan antara praktek umat beragama yang tak mencerminkan Agama, dengan teks-teks Agama yang kadang disalah-pahami oleh para pemeluk Agama.

Baca juga: Kisah bersejarah Imam Syafi'i kecil VS gerombolan perampok, inilah makna sebenarnya

Ingat, apa yang dilakukan oleh pemeluk Agama itu tak selamanya mencerminkan Agama, bahkan kadangkala menodai ajaran Agama. Dalam beragama itu setidaknya ada empat kelompok: Ada orang yang paham dan pemahamannya benar. Ada orang yang paham tapi pemahamannya keliru. Ada orang yang tidak paham tapi mau paham. Dan ada juga orang yang tidak paham, kemudian tidak mau paham, sudah begitu pura-pura paham dan memahamkan orang lain dengan pemahamannya yang salah paham.

Paling repot itu memang kalau sudah berurusan dengan yang keempat ini. Apalagi kalau sudah terlanjur disebut ulama. Kalau Anda berani "mencubit" mereka, bersiap-siaplah Anda disebut sebagai orang tak beradab dan kurang ajar kepada ulama. Intinya, sebagai orang waras kita harus adil dalam memahami Agama. Sebagaimana kita juga harus berlaku adil kepada orang-orang yang tak seagama. Karena itulah yang diajarkan oleh Agama kita.

Sumber: https://www.facebook.com/ibnu.shihab.3/posts/1182965441798450
Pecinta Sholawat. Powered by Blogger.