Home » » Belajar Fiqih: Menerangkan Tentang Riba Dalam Jual Beli (Perdagangan)

Belajar Fiqih: Menerangkan Tentang Riba Dalam Jual Beli (Perdagangan)

Lafazh "Riba" dibaca dengan Alif Maqshurah, menurut bahasa itu mempunyai arti tambah. Sedangkan menurut syara' ialah penyerahan pergantian sesuatu dengan sesuatu yang lain, yang tidak dapat terliaht adanya kesamaan, menurut timbangan syara' pada waktu terjadinya akad jual beli, atau disertai mengakhirkan dalam tukar-menukar atau hanya salah satunya.

Sumber gambar: hendrifayol.blogspot.com
Riba itu haram hukumnya, tetapi riba hanya terdapat pada emas, perak dan makanan-makanan. Adapun yang dimaksud dengan makanan-makanan tersebut adalah segala sesuatu yang bisa dimakan, agar menjadi kuat. Baik buah-buahan atau sesuatu yang dapat dibuat untuk pengobatan. Dan tidak ada riba selain pada yang telah tersebut di atas.

Tidak boleh menjual emas dengan emas. Demikian pula menjual perak dibeli dengan perak, keduanya sudah tercetak, kecuali jika keduanya memiliki kesamaan berat dalam timbangannya. Maka hukumnya tidak sah (tidak boleh) menjual sesuatu (emas atau perak) secara berlebihan. Adapun perkataan Mushanif tentang "Naqdan" (secara kontan) yang terdapat dalam kitab fathul Qorib maksudnya adalah serah terima ketika itu juga. Sebab, bila emas atau perak tersebut dijual dengan tempo untuk pembayarannya, maka hukumnya tidak sah atau haram.

Tidak diperbolehkan (tidak sah) menjual barang yang telah dibeli sebelum barang tersebut diterima oleh pembeli, baik barang itu dijual kepada orang yang semula menjual atau yang lainnya. Dan tidak sah menjual daging yang dibeli dengan binatang, meskipun binatang tersebut sejenis, seperti contohnya menjual daging kambing dan dibeli dengan hewan/binatang kambing, atau lain jenisnya sekalipun dari binatang yang halal untuk dimakan seperti contohnya menjual daging sapi dan dibeli dengan hewan/binatang kambing yang masih hidup.

Boleh menjual emas dibeli dengan perak secara berlebihan, tetapi harus kontan dan melakukan serah terima sebelum akhirnya berpisah. Demikian pula berlaku untuk makanan-makanan. Tidak boleh menjual satu jenis dari makanan-makanan tersebut dengan sejenisnya kecuali harus sama, dibayar dengan kontan dan dilakukan serah terima sebelum berpisah.

Dan boleh menjual satu jenis dari beberapa makanan yang dibeli dengan jenis makanan lainnya secara berlebihan, tetapi harus dibayar dengan kontan dan sudah harus diterima sebelum keduanya berpisah. Jika penjual dan pembeli berpisah sebelum menerima semua barangnya, maka batal jual belinya. Atau perpisahan penjual dan pembeli terjadi sesudah menerima sebagian barangnya, maka dalam hal ini ada dua pendapat yang memisahkan akad jual beli tersebut.

Tidak sah (tidak boleh) menjual barang yang samar, seperti contohnya menjual seorang budak dari beberapa budakku yang ada atau menjual burung yang ada dan masih terbang di udara.

0 komentar:

Pecinta Sholawat. Powered by Blogger.