Home » » NU di Masa Order Baru (Bag. 1)

NU di Masa Order Baru (Bag. 1)

Secara ideologis, NU di masa orde baru sebenarnya lebih tidak leluasa ketimbang di masa orde lama. reaksi NU terhadap rezim baru tersebut menampilkan tikungan dengan banyak tanjakan. dari harapan ke kekecewaan, dari kolaborasi ke oposisi, dan setelah malapetaka kronis kembali lagi setelah aliansi dan penerimaan final terhadap negara monoteistik.

NU di Masa Order Baru
Gambar: liputanislam.com

Ketika G 30 S PKI pecah pada tahun 1965, NU berada pada posisi yang paling sulit, terbelah antara berpihak ke Soekarno atau ke ABRI. Kerja sama yang erat dengan Soekarno  ditandai dengan tindakan presiden mengundang Menteri Agama Saifudin Zuhri untuk mengawinkannya dengan haryati (istri ketiganya) - poligami menjadi bahan pertentangan di kalangan elit Indonesia.

Sebaliknya, Saifudin meminta Soekarno menghentikan kasus korupsi Wahib Wahab, putera Kyai Wahab Hasbullah (Zuhri, 1987:531). Di sisi lain, kedekatan NU dengan militer bisa dilihat dalam keterlibatan fisiknya dalam membantu ABRI  menghancurkan PKI, terutama di Jawa Timur. Sekitar 30.000 hingga 35.000 atau 100.000 orang komunis mati dalam beberapa bulan di Jawa Timur (Hughes, 1967:158). Secara terpisah, ABRI bertanggung jawab, namun tidak diragukan lagi bahwa ansor, kelompok muda NU, juga memainkan peran aktif dalam tindakan anti PKI. Presiden Soekarno sendiri memarahi Ansor karena sikap kanibalisme tersebut.

Posisi sulit itupun menimbulkan keragu-raguan. Maka ketika tanggal 1 Oktober, NU mengutuk kudeta tersebut dan mengajak semua simpatisannya untuk membantu ABRI menegakkan ketertiban.

0 komentar:

Pecinta Sholawat. Powered by Blogger.