Home » » KISAH NYATA: Atur Jadwal Shalatmu, Dan Biarkan Allah Yang Mengatur Hidupmu

KISAH NYATA: Atur Jadwal Shalatmu, Dan Biarkan Allah Yang Mengatur Hidupmu

Pada suatu ketika ada seorang yang hendak mencari pekerjaan, dan dia pun menyebarkan surat lamaran ke beberapa kantor yang  sesuai dengan keahliannya. Setalah 1 minggu berjalan, akhirnya apa yang ia tunggu-tunggu pun tiba. Tiga perusahaan sekaligus langsung menghubungi orang itu.

Namun kegembiraannya ketika itu tidak berlangsung lama, yang ada justru kebingungan. Sebab ketiga perusahaan itu menjanjikan jadwal interview dalam waktu yang hampir bersamaan. Kantor A meminta dia untuk mengadakan interview di hari Rabu, kantor B menjadwalkan interview mereka di hari Kamis, sedangkan kantor C ingin segera bertemu dan melakukan interview di Hari Jum’at.


Gambar: ervakurniawan.wordpress.com
 Sekilas memang tidak ada hal yang perlu membingungkan, akan tetapi dia bingung dengan apa dia mencukupi kebutuhan selama tiga hari tersebut. Rumahnya ada di Jawa Timur sedangkan semua perusahaan yang menghubunginya berada di Jakarta. Dengan ekonomi yang bisa dibilang menengah ke bawah, rasanya tidak mungkin untuk meminjam uang pada orang lain sebab ia takut jika tidak bisa mengembalikannya. Uang tabungannya mungkin hanya cukup untuk perjalanan saja.

Lantas iapun curhat dengan temannya yang memiliki pengetahuan ilmu agama mumpuni. Ia ceritakan segala kebingungannya. Apa yang dikatakan temannya tersebut ternyata jsutru sangat bertolak balakang dengan jawaban apa yang ia inginkan.
“Bagaimana shalatmu?” Tanya temannya.
“Apa hubungannya dengan shalatku?”,  orang itu balik bertanya.
“Sudah jawab saja bagaimana jadwal shalatmu?”
Orang itu semakin bingung dengan pertanyaan temannya itu yang menurutnya memang tidak ada hubungannya dengan pekerjaan. “Shalat shubuh sudah pasti di waktu fajar lah, shalat dluhur itu jam 12, shalat ashar jam 3, maghrib ketika masuk waktu petang dan mega di mendung sudah hilang, sedangkan shalat isya’ ketika waktu maghrib telah habis”, begitulah orang itu menjawab dengan gamblang.

“Maksudku, apa kamu sudah melaksanakan shalatmu sesuai dengan jadwalnya?” temannya terus memojokkan dia.
“Mmm nggak juga sih, aku sering shalat shubuh jam setengah 7, shalat dluhurku jam setengah 3, untuk shalat ashar dan maghribnya sering bolong, apalagi shalat isya”, jawab orang itu dengan nada lirih.
“Nah itu dia masalahnya, atur dulu jadwal shlatmu dengan baik. Cobalah untuk menjalankannya tepat pada waktunya” kata temannya yang mulai memberikan saran.

Dalam hati orang itu masih bertanya-tanya apa hubungannya shalat dengan kebingungan yang dia alami saat itu. “Ah udahlah aku mau pulang dulu”, orang itupun mulai bosan mendengar saran dari temannya tersebut. Hari mulai dekat dengan jadwal interview, namun orang itu tetap juga tidak menemukan solusinya. Orang itupun memberanikan diri untuk mencari pinjaman uang agar bisa pergi ke Jakarta selama 3 hari. Namun hasilnya dia tetap tidak mendapatkan pinjaman uang.

Pada suatu malam, orang itupun teringat dengan saran temannya, dan dia mulai merasa perlu untuk mengatur kembali jadwal shalatnya. Orang itu berkata dalam hati “Mungkin apa yang dia katakan itu benar, ahh apa salahnya mencoba”. Mulai saat itu, yang mana jadwal  interview kurang 4 hari lagi, ia pun mencoba untuk menjalankan shalat tepat pada waktunya. Tiga hari sudah berlalu, namun tidak ada tanda-tanda perubahan sedikitpun. Iapun sempat bergumam dalam hati lagi “Aduh, semua itu omong kosong”. Tiga berlalu dengan jadwal shalat yang tertib, telah sedikit merubah kebiasaannya dalam menjalankan shalat lima waktu. Akhirnya diapun tetap memutuskan untuk menjalankannya tepat waktu. 

Sungguh tidak disangka, 1 hari sebelum jadwal interview yang pertama kantor A menelponnya dan memberi kabar bahwa jadwal interview mundur hari senin pukul 09.00 pagi, iapun tambah kebingungan. Sebab ia justru harus menginap di Jakarta lebih lama, yaitu hari kamis hingga hari senin sebab ia tidak mungkin jika harus bolak balik ke Jakarta. Pada sore harinya, iapun seakan menyerah. Dia sempat menteskan air mata dan berkata lirih, “Ya Allah…jika ini memang bukan jalanku, lepaskanlah segala kebingungan ini dan tunjukkan jalan lain yang lebih baik”. 

Setelah menjalankan shalat isya, dia mencoba untuk rileks di teras rumahnya yang kecil. Tak lama kemudia handphone-nya berdering. Sungguh diluar dugaannya bahwa itu adalah telepon dari kantor C yang juga menjadwalkan ulang interview pada hari senin pukul 12.00 siang ketika semua karyawab sedang sitirahat. Dari situ, kesedihannya sedikit berkurang, dia memutuskan untuk menjalani interview di dua perusahaan saja. Dan untuk perusahaan B, akan ia tinggalkan. Tak lama berselang, giliran kantor B yang menghubunginya dan memutuskan untuk mengundurkan jadwal interview di hari senin pukul 10.00 pagi sebab pihak perusahaan bilang kalau hari kanis dan jum’at akan ada pertemuan mendadak guna melanjutkan proyek yang sudah lama terbengkalai.

Ketika itu juga orang itupun menangis sejadi-jadinya, tangisan haru, tangisan kebahagiaan juga tangisan penuh dosa bercampur jadi satu. Iapun sadar, bahwa selama ini dia telah menyia-nyiakan shalatnya. Dan iapun teringat akan saran temannya, “Atur jadwal shalatmu, dan biarkan Allah yang mengatur hidupmu”. Sungguh kejadian yang sulit untuk di nalar.

Sejak saat itu, orang itupun tidak pernah lagi menyepelakan shalatnya. Bahkan, iapun melakukannya dengan shalat berjama'ah dan menyempurnakannya dengan shalat sunnah rawatib. Hari demi hari berjalan, iapun telah lama bekerja di salah satu perusahaan yang pernah ia lamar. Dan kini kehidupannya pun jauh lebih baik dari sebelumnya.

0 komentar:

Pecinta Sholawat. Powered by Blogger.